Saat Pegawai Kejagung Masih Terapkan WFH, Kenapa Gedung Bisa Terbakar?

Penampakan Gedung Kejagung Setelah 11 Jam Terbakar

Gedung Kejagung Ludes Terbakar Selama 11 Jam

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Hits: 65

suarainsani.com – Kemarin Sabtu sore hari telah terjadi kebakaran di Gedung Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jl. Sultan Hasanuddin Dalam No.1, RT.11 / RW.7, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan.

Sampai tulisan ini dibuat, api pun telah berhasil dipadamkan dan pihak damkar menyatakan seluruh bagian gdung kejaksaan habis terbakar.

Dunia sosmed tiba-tiba menjadi ramai dengan analisi disana-sini. Kita kupas satu persatu yuk.

Para netizen bertanya-tanya kenapa kebakaran terjadi pada hari Sabtu saat libur? Bukankah kantor-kantor pemerintah masih menerapkan WFH yang menerapkan protokol covid dan keamana yang ketat?

Baca juga berita terkait lainya : Kantor Kejagung terbakar, Ruangan Bidang Intelijen ludes terbakar

Bila ada faktor kesalahan manusia, apakah ini tanda protokol tidak dijalankan dengan baik? Apakah ini adalah upaya menghilangkan bukti-bukti kasus besar di Indonesia saat ini? Kasus besar apa saja yang sedang menjadi obrolan publik?

Ada dua kasus besar yang menjadi sorotan publik yang melibatkan para jaksa, di antaranya adalah kasus Novel Baswedan dan Kasus Korupsi Cessi (Djoko Tjandra).

Kasus korupsi cessie (hak tagih) Bank Bali dengan terdakwa Djoko Tjandra ada uang senilai Rp546 miliar yang menjadi bukti sitaan kejaksaan agung dan dititipkan di rekening escrow di Bank Permata.

Bukti sitaan tersebut menjadi gelap karena ada indikasi bahwa sitaan tersebut dibagi-bagi oleh oknum. Informasi tersebut diperoleh dari mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar yang juga pernah menjadi penyidik ​​sekaligus menjadi jaksa penuntut umum dalam kasus tersebut yang mencuat pada 1999.

Antasari merasa memiliki beban moral karena tidak tuntasnya kasus-kasus cessie Bank Bali. Kasus korupsi cessie Bank Bali pada tingkat pertama eksekutor putusan pengadilan adalah Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

Antasari mengatakan untuk melihat apakah bukti sudah dieksekusi lengkap dengan berita acaranya, maka kepolisian bisa meminta keterangan kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan yang telah dieksekusi saat 2009 tersebut.

Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan pada tahun 2009 dijabat oleh Setia Untung Arimuladi. Setia Untung kini berubah sebagai Wakil Jaksa Agung.

Dalam kasus Novel Baswedan, masyarakat dikejutkan informasi bahwa jaksa Penuntut Umum yaitu Robertino Fedrik Adhar Syaripuddin meninggal dunia, pada Senin (17/8). Fedrik is salah satu jaksa yang goyah kasus penyiraman air keras terhadap penyidik ​​KPK, Novel Baswedan.

Jaksa kasus novel diketahui pelaku pelaku penyiraman air keras sebantak 1 tahun penjara. Tuntutan tersebut saat itu menuai kontroversi di masyarakat karena terlalu ringan. Majelis hakim kemudian memvonis pelaku dua tahun penjara. Meninggal Jaksa Robertino Fedrik tersebut menjadi perbincangan ramai di masyarakat, karena meninggalnya masih diduga karena Covid-19.

Salah satu netizen menulis di twitter:

“Jaksa Bang Novel meninggal… Bukti sita Bank Bali Rp546 miliar… Dan sekarang gedung kejaksaan agung kebakaran … Kebetulan yg luar biasa sekali…”

Semoga Petugas Pemadam Kebakaran segera bisa memadamkan api yang menyala dan semoga petugas keamaan bisa melakukan yang hasilnya dibuka kepada publik secara transparan sehingga tidak menduga-duga di tengah masyarakat.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter