Prostitusi Semakin Merakyat

Wirani Aisiyah Anwar (Dosen IAIN Parepare, STAI DDI Sidrap)

Wirani Aisiyah Anwar (Dosen IAIN Parepare, STAI DDI Sidrap)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Hits: 64

SUARAINSANI.COMOPINI РProstitusi sangat susah untuk diatasi. Sejak dulu prostitusi sudah menjadi akar di dunia ini, sebagian yang melakukan  prostitusi karena faktor ekonomi dan frustasi dengan keadaan yang ada. Pekerjaan ini sudah menjadi lumrah bagi mereka yang melakukaknnya, bahkan menjadi sarana dan prasarana mereka untuk beroperasi tanpa ada kendala dari masyarakat setempat, dan masyarakat tampak acuh dengan apa yang mereka lakukan, pekerjaan tersebut sudah menjadi hal biasa dikota-kota besar.

Bahkan para pekerja prostitusi itu mendapatkan izin untuk tinggal di tempat tersebut dan mendapatkan fasilitas kesehatan secara rutin. Diskotik menjadi tempat pendatang bagi pekerja seks komersial untuk beroperasi dengan dikuatkan oleh para premanisme diskotik tersebut mulai menguatkan mereka untuk terus beroperasi secara rutin. Pelaku prostitusi tidak bisa dibubarkan. Sehingga bisa dikatakan pemerintah menyetujui akan keberadaan mereka beroperasi untuk mereka mencari nafkah.

Prostitusi merupakan penjualan jasa seksual, seperti seks oral atau hubungan seks, untuk uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK). Di kalangan masyarakat Indonesia, pelacuran dipandang negatif, dan mereka yang menyewakan atau menjual tubuhnya sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Ada pula pihak yang menganggap pelacuran sebagai sesuatu yang buruk, jahat, tetapi pada kenyataannya dibutuhkan (evil necessity).

Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa kehadiran pelacuran bisa menyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkannya, tanpa penyaluran itu, dikhawatirkan para pelanggannya justru akan menyerang dan memperkosa kaum perempuan yang tidak tergolong kaum prostitusi. Pelacuran tidak hanya dilakukan oleh perempuan dewasa, tetapi saat ini mulai banyak anak perempuan yang melacur dengan alasan ekonomi.

Pemerintah Kota beberapa kali melakukan razia dalam upaya pemberantasan tempat prostitusi terselubung yang dilakukan oleh satuan polisi pamong praja. Namun sangat disayangkan juga ada beberapa pasangan yang sempat ditemukan melakukan praktik prostitusi di dalam tempat itu tapi tidak diberi sanksi, baik kepada pemilik tempat tersebut maupun kepada kedua pasangan yang kedapatan berbuat mesum di wisma itu.

Tetapi, hal ini tidak membuat jera para pelacur, bahkan jumlahnya makin bertambah. Pelacur ini sebenarnya terpaksa melakukan pekerjaan tersebut karena keadaan dan situasi ekonomi yang berat memaksa mereka dan memang tidak ada pilihan lain dan ada juga yang terjebak germo sehingga karena takut dengan anggapan masyarakat maka sekalian saja mereka menjadi pelacur. Selain itu pemerintah kurang serius menangani masalah pelacuran ini, terbukti razia-razia yang bertujuan untuk mengurangi pelacuran itu tidak berhasil.

Prostitusi atau pelacuran ini kebanyakan mereka adalah perempuan, mereka melakukan itu karena selama ini anggapan masyarakat terutama laki-laki menempatkan perempuan hanya sebagai pemuas atau pelayan seks saja, jadilah pelacuran tumbuh subur. Hal ini lebih diperparah lagi dengan mitos keperawanan di masyarakat, padahal korban perkosaan semakin meningkat.

Mereka yang menjadi korban perkosaan dan berasal dari ekonomi lemah dengan kesempatan kerja yang kecil banyak yang akan lari ke dunia pelacuran. Kita tidak bisa menyalahkan mereka para pelacur itu karena sistem di Indonesia justru membuat perempuan terjebak dalam kepelacuran itu sendiri.

Hal ini berkaitan terhadap hukum yang membungkus kategori victim-less sebagai perbuatan seks kriminal. Apabila mengacu pada pendapat di atas, maka hukuman terhadap victim-less yang dipandang sebagai tindak kriminal sebaiknya dieliminasi dan lebih jauh aktivitas seperti itu sebaiknya didekriminalisasi (decriminalized).

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

2 thoughts on “Prostitusi Semakin Merakyat

Comments are closed.

Subscribe To Our Newsletter